SYAKHRUDDINNEWS.COM – “Semangat pagi!” Seruan singkat itu bukan sekadar sapaan. Ia adalah dentang pembuka hari yang biasa menggema di barak militer, di lapangan latihan, juga di setiap pelatihan Tagana. Dua kata sederhana, namun mengandung kekuatan untuk membangunkan jiwa, menegakkan raga, dan menyiapkan mental agar manusia tak menyerah sebelum hari benar-benar dimulai.
Pagi ini, Mozaik Kehidupan kembali menyapa dengan semangat yang sama. Sebab pagi bukan hanya pergantian waktu, melainkan pintu kecil menuju harapan—bahwa setiap langkah hari ini, sekecil apa pun, tetap layak diperjuangkan.
Di panggung nasional, semangat itu berwujud pada sebuah babak baru sejarah militer. Setelah seperempat abad kursi Wakil Panglima TNI dibiarkan kosong, Presiden Prabowo Subianto akhirnya mengisinya. Jenderal TNI Tandio Budi Revita—perwira bintang empat lulusan Akmil 1991 dari kecabangan Infanteri Kostrad—resmi dilantik, menandai denyut baru dalam tubuh kepemimpinan TNI.
Namun sejarah tak pernah berjalan lurus tanpa catatan kaki. Komisi I DPR segera mengingatkan publik: setinggi apa pun pangkat disandang, Jenderal Budi Revita belum dapat melangkah ke puncak sebagai Panglima TNI.
SebAb dalam birokrasi militer, pangkat hanyalah satu tangga, pengalaman lintas matra adalah syarat lain yang tak bisa ditawar. Sebuah pelajaran tentang sistem: bahwa jabatan tertinggi bukan sekadar soal bintang di pundak, tetapi jejak panjang pengabdian
Dari dunia politik, nada sumbang kembali terdengar. Seorang politisi, Muslim Ayub, dengan jujuratau mungkin getir—mengaku menghabiskan hingga Rp30 miliar demi satu kursi legislatif. Ia pun melempar gagasan agar Pemilu digelar sepuluh tahun sekali, agar ongkos politik sempat “kembali modal”.
Demokrasi pun kembali diuji: antara idealisme yang diagungkan, dan biaya mahal yang diam-diam mencekik. Sebuah senyum pahit mengiringi usulan itu—karena di negeri ini, harga kekuasaan sering kali lebih cepat dihitung daripada harga keadilan.
Namun puncak emosi Mozaik Kehidupan pagi ini justru tidak lahir di ruang rapat atau gedung parlemen. Ia hadir di sebuah lapangan terbuka—Lapangan Hasanuddin, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa.
Senin pagi, 5 Januari 2026, ribuan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) berdiri rapi dalam seremoni pelantikan. Wajah-wajah harap bercampur lega. Tetapi di tengah barisan itu, air mata pecah, mengalir tanpa bisa dibendung.
Seorang perempuan bernama Hawatia melangkah ke depan. Suaranya bergetar saat menyampaikan isi hati di hadapan Bupati Gowa.
Dua puluh enam tahun, Lebih dari seperempat abad, Waktu sepanjang itu ia abdikan sebagai tenaga honorer—menunggu, berharap, bersabar.
Hari itu, SK PPPK akhirnya ia terima. Namun takdir seakan tergesa. Di hari yang sama, usia Hawatia genap 58 tahun—batas akhir jabatan fungsional. Ia resmi menjadi PPPK… dan pada saat yang sama, resmi pula pensiun.
Statusnya berubah hanya dalam hitungan jam. Gaji pertamanya bahkan tak sempat ia rasa
“Sedih sekali,” ucapnya lirih, mata berkaca-kaca.
“Penantian 26 tahun baru terjawab sekarang, tapi langsung harus pensiun.”
Hawatia bukan sekadar nama dalam daftar. Ia adalah potret pengabdian sunyi. Selama puluhan tahun di Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Gowa, ia menyusuri lorong-lorong kampung, berjalan kaki dari rumah ke rumah, menyampaikan penyuluhan KB dan kependudukan. Upahnya terbatas. Jalannya panjang. Letihnya tak terhitung. Namun kesetiaannya tak pernah tawar
Kepala DPPKB Gowa, Sofyan Daud, menyebut hari itu sebanyak 3.924 pegawai menerima SK PPPK. Tetapi di antara ribuan nama, kisah Hawatia menjelma simbol—tentang kesetiaan yang terlalu lama diuji, dan keadilan yang datang hampir bersamaan dengan perpisahan.
Dari Gowa, mozaik perjuangan bergeser ke utara Sulawesi Selatan. Di Jalan Trans Sulawesi, Kecamatan Bungadidi, Kabupaten Luwu Utara, ratusan massa turun ke jalan. Masyarakat, pemuda, dan mahasiswa menyuarakan satu tuntutan: pembentukan Provinsi Luwu Raya.
Yang menarik, seorang bupati tak memilih berdiri di balik pagar pengamanan. Bupati Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim, justru tampil di garis depan. Berseragam dinas khaki, ia berdiri di atas mobil bak terbuka, berorasi di tengah jalan—menyatu dengan barisan demonstran.
Aksi ini digerakkan oleh Aliansi Perlawanan Rakyat Luwu Utara, melibatkan berbagai organisasi pemuda dan mahasiswa: dari Pemilar, HMI, PMII, GMNI, hingga LMND. Dalam orasinya, Andi Rahim menegaskan bahwa tuntutan ini bukan ledakan sesaat, melainkan gema panjang aspirasi historis Tana Luwu—yang telah berakar sejak masa Kedatuan Luwu di bawah kepemimpinan Andi Djemma, 1953–1963.
Jika ada manusia yang setia menulis buku harian, hampir pasti namanya Haris Otto Kamil Tanzil—atau HOK Tanzil. Sejak usia 20 tahun hingga akhir hayatnya, nyaris tak ada satu hari pun yang luput dari catatan. Ia wafat Oktober 2017, meninggalkan jejak yang lebih panjang dari sekadar umur.
Tanzil menulis segalanya. Dari perjalanan keliling dunia tanpa rasa takut—karena baginya semua manusia pada dasarnya baik—hingga detail paling manusiawi. Ia bahkan mencatat hal remeh seperti: pukul 11.13, ia buang angin. “Kalau masih bisa buang angin,” katanya ringan, “itu tanda sehat.”
Ia pelahap film, penjelajah waktu, dan penjaga ingatan. Dalam satu catatan saja, ia menulis: 1 Juli–31 Desember 1941: menonton film di bioskop 111 kali.
Dari Tanzil, kita belajar: hidup bukan hanya untuk dijalani, tetapi juga untuk dikenang—ditulis, dirawat, dan dimaknai.
Di pagi yang penuh semangat ini, Mozaik Kehidupan kembali mengingatkan kita:tidak semua perjuangan berakhir dengan sorak sorai. Sebagian ditutup dengan air mata, sebagian lagi dengan catatan sunyi.
Namun selama ia dijalani dengan setia, tak satu pun pengabdian benar-benar sia-sia
meski pengakuan datang terlambat,
atau hanya hidup dalam ingatan
Penulis : Syakhruddin.DN
