SYAKHRUDDIN.COM – “Menjadi salah satu pramugari di maskapai asing yang berbasis di Jeddah ini kita lebih sering beribadah. Beribadah bisa kapan saja.” ‘Labbaik allahumma labbaik’
Sebelum mengulas tentang Crew Ratih, sejenak kita saksikan bersama bagaimana Anies Baswedan disambut Pemerintah Arab Saudi bahkan Raja Salman menemani Anies Baswedan melakukan tawaf dikawal dengan petugas istana, semoga Allah mentakdirkan sebagai Presiden RI periode mendatang, amin
Penumpang haji yang bertolak dari Jakarta menggunakan pesawat Saudi Airlines kompak menyerukan potongan bacaan talbiyah. Kalimat yang memiliki arti ‘Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya, Allah’ itu rasanya seakan membuat dinding pesawat bergetar.
Selama melewati penerbangan jarak jauh itu, Lailatul Sadiah, pramugari yang ditugaskan mendampingi para jamaah haji sampai merinding dibuatnya.
Perjalanan di tahun 2019 kala itu terasa makin istimewa buat Lailatul. Selain bertugas mengantarkan para jamaah haji, ia juga diberi kesempatan untuk menjadi peserta haji.“Alhamdulillah aku boleh daftar juga sebagai peserta haji.
Jadi itu menurut aku kayak momen paling spesial banget dalam perjalanan aku,” kata Lailatul saat dihubungi detikX. Ia resmi bergabung dengan maskapai berbasis di Kota Jeddah itu pada tahun 2018.
Bukan hanya dapat menunaikan haji, selama tinggal di Kota Jeddah, Lailatul kerap memanfaatkan waktu istirahatnya untuk singgah ke Kota Mekkah untuk melaksanakan umroh.
Jarak dari Kota Jeddah dan Kota Mekah dapat ditempuh selama kurang lebih 40 menit menggunakan kendaraan pribadi.
“Hanya bekerja di perusahaan inilah yang bisa buat aku mendapatkan kesempatan mudah untuk umroh,” ucap perempuan berusia 27 tahun ini.
Musim haji menjadi momen yang ditunggu-tunggu Lailatul. Jika biasanya ia hanya melayani penumpang reguler, di bulan ini Lailatul dan timnya ditugaskan untuk menjemput jemaah haji dari seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Berdasarkan pengalaman Lailatul yang melayani para jamaah haji, peserta dari Indonesia mendapatkan atensi khusus karena didominasi penumpang yang lanjut usia dan belum pernah naik pesawat.
Jemaah calon haji kelompok terbang (kloter) pertama embarkasi Palembang berjalan menuju pesawat di Bandara Internasional Sultan Mahmud Baddarudin (SMB) II Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu 27 Mei 2023.
Perjalanan dibuat senyaman mungkin dan cenderung lebih santai ketimbang penerbangan regular.
Lailatul mengibaratkan penerbangan menuju kota suci seperti sedang menaiki bus perjalanan wisata. Perjalanan menuju Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMMA), Madinah, terasa melelahkan bagi mereka, apalagi durasi penerbangannya ditempuh selama sepuluh jam.
Biasanya peserta haji diberi kesempatan setiap tiga jam sekali untuk melakukan peregangan. Ketika itu mereka juga dibebaskan untuk jalan di lorong pesawat. Dalam satu pesawat, jamaah haji juga ditemani petugas haji, dokter, dan ustad.
“Kalau yang haji mereka kan duduknya itu nggak pakai nomor kursi boarding pass biasa, Jadi itu kayak duduk naik bus, gitu. Terus kalau rombongan dari Indonesia makanannya pasti ada menu nasi,” kata Lailatul. Sesampainya mereka di lokasi tujuan, para peserta haji akan diberi bingkisan berisi air zam-zam dan kurma.
Tak terasa, sudah 28 tahun Ratri Handayani tinggal dan menetap di Kota Jeddah. Ratri masih ingat betul saat pertama kali ia menginjakkan kaki di kota ini.
Saat itu usianya masih 21 tahun. Ratri meninggalkan sanak saudaranya di Indonesia untuk memenuhi panggilan sebagai pramugari di Saudi Airlines. Di kota yang terkenal sebagai pelabuhan utama di Arab Saudi itu, Ratri sudah menikah dan memiliki anak.
“Menjadi salah satu pramugari di maskapai asing yang berbasis di Jeddah ini, kita lebih sering beribadah. Jadi bekerja juga, beribadah, tuh, alhamdulillah bisa kapan saja,” ucapnya.
Ratri juga merupakan Founder akun @cabincrewmenulis, sebuah wadah di Instagram bagi para awak kabin dan mantan awak kabin untuk berbagi pengalaman mereka.
Sempat vakum selama sepuluh tahun, Ratri kembali terbang bersama Wamos Air, sebuah maskapai asal Spanyol yang merupakan charter flight oleh Saudia. Sejak tahun 2016 hingga saat ini, Ratri terdaftar aktif sebagai pramugari di Air Atlanta, sebuah maskapai asing Eropa yang berbasis di Jeddah.
Selama bertugas, Ratri melayani penerbangan domestik untuk mengangkut jamaah haji di Arab Saudi. Di musim haji, Ratri juga ditugaskan untuk menjemput jamaah haji dari Indonesia. Kesempatan ini ia manfaatkan untuk berjumpa dan melepas rindu bersama keluarga.
“Kalau di Jakarta ada yang dari Bandung, ada yang dari Purwakarta. kalau dari Surabaya ada yang dari Malang, Madiun, Madura. Kan tiap itu maskapai beda-beda, ya. Maksudnya setiap emberkasinya,” tutur Ratri yang kini berusia 49 tahun.
Berbekal jam terbang tinggi di penerbangan haji, Ratri sudah siap siaga untuk memberikan perhatian khusus kepada jamaah haji, terutama bagi mereka yang sudah lanjut usia dan memiliki kendala kesehatan dan butuh pengawasan.
Salah satu area yang perlu diwaspadai adalah toilet. Salah satu penumpangnya sampai sungkan menggunakan toilet karena takut terkunci di dalamnya dan tak mengerti cara menggunakan toilet.
“Pokoknya karakter penumpangnya bermacam-ragam, mulai dari yang lucu-lucu, yang takut, atau bahkan bingung. Jadi memang kita sebagai cabin crew harus sabar, juga harus siap untuk mengedukasi mereka dan lain-lain,” imbuh Ratih.
Namun tidak semua penumpang haji merupakan lansia. “Ada juga pernah saya terbang dengan salah satu jamaah haji termuda. Itu tahun lalu, ya, ada yang sudah didaftarin oleh orang tuanya sejak dia masih SD (sdn)




Masya Allah sekali kisahnya Lailatul dengan Ratih yang seorang pramugari yang bisa ke tanah suci dengan sangat mudah dan kisah perjalanan selama jadi pramugari juga sangat menginspirasi bagi orang lain
bACALAH SELALU JEJAK INFORMASI YANG MENGINSPIRASI