SYAKHRUDDINNEWS.COM – Fajar ke-13 Ramadan 1447 Hijriah menyingsing lembut di Masjid Besar Al-Abrar. Udara subuh terasa berbeda hening, namun penuh harap.
Di saf terdepan, Muhammad Yusuf Dg Malli berdiri sebagai imam, menggantikan Lahamuddin Dg Gassing yang tengah bertugas di luar masjid. Sementara itu, jalannya kegiatan dipandu tenang oleh Muhammad Ilham Dg Naba, S.Pd.
Nama yang dinanti pun tiba: Ustadz H. Muhammad Asdar, M.Si. Tema yang diusung pagi itu terdengar sederhana, namun sarat makna: “Menjadi Muslim yang Produktif.”
Dengan langkah pelan menuju podium, beliau berterus terang. Kondisi tubuh kurang bersahabat akibat cuaca yang berubah-ubah, ditambah materi yang baru diterima sehari sebelumnya.
“Izinkan saya menyampaikan dalam bentuk poin-poin saja,” ujarnya Namun justru dari kesederhanaan itulah, mutiara-mutiara hikmah mengalir jernih.
Produktivitas, kata beliau, bukan sekadar sibuk. Ia adalah kesungguhan yang berpijak pada niat. “Innamal a’malu bin niat” segala amal bergantung pada niatnya. Tanpa niat yang lurus, kerja hanya menjadi rutinitas kosong.
Lalu tentang waktu. Ramadan mengajarkan bahwa detik adalah amanah. Siapa yang mampu mengelolanya dengan efektif, dialah yang memanen keberkahan.
Waktu yang terbuang adalah kesempatan yang tak kembali.
Ilmu menjadi penopang berikutnya. Bila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, tunggulah kehancuran. Produktif berarti terus belajar, menempatkan diri sesuai kapasitas dan kompetensi.
Shalat lima waktu ditegaskan sebagai fondasi. Bagaimana mungkin ingin produktif dalam urusan dunia, jika lalai pada panggilan langit? Dari sajadah itulah lahir ketenangan, disiplin, dan arah hidup.
Kemudian menentukan skala prioritas, memilah yang utama dari yang sekadar terasa penting. Seorang muslim produktif tidak mudah terjebak pada kesibukan yang tak bernilai.
Ia juga harus bermanfaat. Sebaik-baik manusia adalah yang paling memberi manfaat bagi sesama. Produktivitas sejati tak berhenti pada diri sendiri.
Kesehatan menjadi syarat berikutnya. Tubuh yang kuat menopang ibadah dan kerja. Menjaganya adalah bagian dari syukur.
Dzikir dan doa mengikat semua usaha pada langit. Karena sekuat apa pun ikhtiar, tetap Allah-lah penentu hasil. Maka keberkahan menjadi tujuan akhir, bukan sekadar banyaknya capaian, tetapi nilai yang diridai-Nya.
Dan penutup yang menggugah: syukur. Bagi yang enggan bersyukur, Allah mengingatkan dengan tegas, “Inna ‘adzabi lasyadid.” Azab-Ku sangat pedih. Syukur bukan sekadar ucapan, melainkan kesadaran bahwa semua daya dan upaya adalah karunia.
Subuh itu pun berakhir dengan kesadaran baru: menjadi muslim produktif bukan tentang berlari paling cepat, melainkan berjalan paling lurus. Di Ramadan yang terus beranjak, produktivitas bukan hanya soal hasil, tetapi tentang niat, ibadah, dan keberkahan yang menyertainya.
Menutup tauzihnya pada subuh kali ini, Ustaz Asdar menyampaikan pantun ;
Kalau ada jarum yang patah Jangan di simpan dalam peti Kalau ada umur panjang Kita boleh bersua lagi
Dan pantun terakhirnya berbunyi : Nenek Uceng beli terasi, cukup sekian dan terima kasih (sdn)