SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pembaca setia Mozaik Kehidupan, tanggal baru kembali menyapa. Gaji telah singgah di rekening, para purnabakti pun menerima haknya.
Di sudut-sudut rumah, daftar belanja Lebaran mulai disusun, sementara janji Tunjangan Hari Raya dinanti dengan penuh harap, konon akan cair bertahap pada pekan pertama. Banyak penantian, setumpuk kebutuhan, dan segudang harapan menjelang 1 Syawal 1447 Hijriah.
Namun hidup tak pernah hanya tentang kabar gembira. Di sela kebahagiaan, duka turut mengetuk. Selasa, 3 Maret 2026, bangsa ini kehilangan salah satu putra terbaiknya. Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, Try Sutrisno, mengembuskan napas terakhir di usia 90 tahun di RSPAD Jakarta.
Mengawali jumpa kita hari ini, Penulis sampaikan sebuah pantun :
Pergi berlayar ke Pulau Pandan,
Singgah sejenak di tepi seberang.
Hari berganti, harap bertandan,
Doa terangkai di bulan terang.
Ada manusia yang berjalan di lorong sejarah tanpa gaduh, namun jejaknya menetap lama di ingatan bangsa. Try Sutrisno adalah salah satunya.
Lahir dari kesederhanaan, ia tumbuh menjadi prajurit, lalu menapaki tangga kepemimpinan nasional dengan ketekunan dan disiplin. Dari barak hingga Istana, dari medan tugas hingga ruang pengambilan keputusan, langkahnya selalu berpijak pada satu nilai: pengabdian tanpa pamrih.
Sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia ke-6, ia dikenal bersahaja, tegas namun teduh. Ia memilih bekerja dalam diam, membiarkan hasil berbicara. Baginya, jabatan bukan mahkota, melainkan amanah.
Dalam dunia yang kerap memuja sorot lampu, Try Sutrisno mengajarkan arti kesetiaan pada tugas, kejujuran dalam tanggung jawab, dan ketulusan dalam melayani. Di sanalah, pada sunyi pengabdian, sejarah mencatat namanya.
Di belahan bumi lain, dunia menahan napas. Di perairan sempit bernama Selat Hormuz, dentum konflik menjelma ancaman bagi nadi energi global. Minggu, 1 Maret 2026, Iran melancarkan serangan terhadap kapal-kapal tanker yang nekat melintas, menegaskan larangan berlayar di jalur strategis tersebut.
Sekitar seperlima pasokan minyak dunia bergantung pada selat ini. Laut yang biasanya sibuk, mendadak lengang, sunyi yang sarat ketegangan. Timur Tengah kembali berdiri di persimpangan sejarah. Serangan 28 Februari 2026 yang menewaskan Ali Khamenei mengguncang peta geopolitik kawasan.
Sbelumnya, Suriah lebih dulu mengalami pergeseran rezim. Di tengah pusaran itu, Turki tampil sebagai poros baru, memainkan peran diplomasi dan militer, sembari menegaskan kepentingannya.
Namun sejarah selalu mengingatkan: geopolitik bukan sekadar soal moral, melainkan seni menyeimbangkan kepentingan. Di balik solidaritas, ada kalkulasi. Di balik pidato, ada strategi.
Langit malam 3 Maret 2026 pun menghadirkan pertunjukan sunyi. Gerhana bulan total terjadi di tengah Ramadan, seolah alam turut berpuasa. Bulan perlahan meredup, tenggelam dalam bayang-bayang bumi. Saat cahaya menghilang, manusia diajak menunduk, merenung, dan bersujud.
Gerhana mengajarkan satu hikmah sederhana: cahaya sejati tak pernah padam, ia hanya tertutup sementara. Seperti iman yang mungkin meredup oleh lalai, namun akan kembali bersinar bila disirami taubat dan amal. Di langit Ramadan, bulan dan manusia sama-sama belajar tentang tunduk, sabar, dan kembali kepada-Nya.
Menjelang azan magrib, jalanan kota berubah menjadi arena “takjil war”. Lapak-lapak dipenuhi pembeli. Kolak, es buah, gorengan, dan kue tradisional ludes sekejap. Siapa terlambat, pulang dengan tangan hampa.
Namun Ramadan sejatinya bukan tentang siapa paling cepat, melainkan siapa paling ikhlas. Di antara antrean panjang, semua status sosial melebur.
Tapi di sudut lain kota, masih ada yang berbuka dengan air putih dan doa panjang. Ramadan pun berbisik lirih: belilah secukupnya, sisakan untuk sesama.
Di sebuah persimpangan padat, seorang bocah 11 tahun berdiri di bawah terik matahari. Di tangannya, seikat tisu. Di matanya, harap yang rapuh.
Namanya Rafi (bukan nama sebenarnya). Sejak ayahnya meninggal dan ibunya sakit-sakitan, ia berhenti sekolah. Bukan karena malas, melainkan karena hidup memaksanya dewasa terlalu cepat.
“ Saya mau jadi guru, supaya bisa ngajari anak-anak kecil baca Qur’an dan berhitung,” ujarnya lirih.
Mimpinya terlipat rapi di saku baju lusuh, menunggu waktu yang entah kapan. Di negeri yang kaya, masih ada anak-anak yang harus memilih antara sekolah atau makan. Di sanalah, nurani diuji.
Senin pagi, Penulis menyambangi Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Aktivitas perkuliahan daring tetap berlangsung, sesuai arahan Dekan agar Ramadan tak menjadi alasan terhentinya proses akademik.
Menjelang zuhur, para profesor berkumpul dalam saf shalat berjamaah. Seusai shalat, canda ringan mengalir, menyebut masa purnabakti yang kian dekat bagi para profesor senior, sebuah estafet pengabdian yang terus bergerak.
Di Balai Kota Makassar, roda birokrasi turut berputar. Sebanyak 27 pejabat administrator dan pengawas dilantik.
Sebuah ikhtiar menghadirkan energi segar demi layanan publik yang lebih baik. Hari ini sumpah diikrarkan, esok pengabdian diuji. Di sanalah, kepercayaan rakyat mencari jawabannya.
Mengakhir naskah hari ini, sebuah Pantun Penutup:
Pergi ke taman memetik delima,
Disimpan rapi dalam keranjang.
Puasa menuntun jiwa ke cahaya,
Agar hidup makin bersilang terang.
Terima kasih telah membersamai Mozaik Kehidupan. Selamat menunaikan ibadah puasa.
Salam hangat,
Syakhruddin Tagana

