SYAKHRUDDINNEWS.COM – Malam ke-13 Ramadan 1447 Hijriah menetes perlahan di Masjid Besar Al-Abrar, Jalan Sultan Alauddin No. 82 Makassar. Udara tenang, saf-saf rapat, dan wajah-wajah jamaah berselimut khidmat.
Di sela lantunan doa dan dzikir, laporan panitia disampaikan oleh Zulkarnaen Syamsuddin: isi celengan masjid, ucapan terima kasih kepada para ibu yang setia menyuguhkan kue berbuka, serta pengumuman penceramah malam ini, Prof. Dr. H. Andi Darussalam Syamsuddin, MA
Saat kaki sang profesor menapaki mimbar, suasana kian hening. Ceramah pun mengalir, disetir langsung menuju sabda Rasulullah SAW tentang pentingnya ilmu dalam beribadah. Sebuah tema yang sederhana, namun menjelma cahaya dalam gelapnya kebodohan.
“Tidurnya orang berilmu,” tutur beliau, “lebih bernilai daripada ibadahnya orang yang tak berilmu. Dua rakaat salat orang berilmu pun lebih utama dibanding panjangnya ibadah tanpa pengetahuan.”
Adilkah perbandingan itu? Dengan senyum bijak, beliau menjawabnya sendiri: adil.
Sebab, kesalahan orang berilmu akan diganjar lebih berat, sementara kealpaannya tak lagi bernaung di balik ketidaktahuan. Di sanalah letak keadilan Ilahi.
Untuk memudahkan pemahaman, Prof. Darussalam menganyam ilustrasi sederhana. Tentang sepasang pengantin baru, yang seusai salat berjamaah, sang istri bertanya: mengapa suaminya berpindah tempat setelah salat fardu?
Jika tanpa ilmu, jawaban hanya sebatas gelengan. Namun dengan bekal pengetahuan, sang suami menjelaskan: agar tempat sujud berikutnya kelak menjadi saksi di hadapan Allah SWT. Sebab, setiap jengkal bumi akan bersuara pada hari perhitungan.
Lalu, beliau menukik lebih dalam. Mengapa umat Islam pernah mengalami kemunduran berpikir? Rasulullah SAW, dalam satu perjalanan, memasuki sebuah masjid dan menjumpai dua kelompok majelis.
Satu kelompok larut dalam dzikir, sementara kelompok lainnya tekun mengkaji ilmu agama. Kepada yang berdzikir, Nabi mendoakan rahmat. Namun kepada para penuntut ilmu, beliau bersabda: “Semoga kalian termasuk orang-orang yang selamat.”
Sebuah isyarat halus: dzikir memurnikan hati, tetapi ilmu menuntun arah.
Alam pun, lanjut beliau, tak henti memberi pelajaran.
Dari bangau, lahir jurus bangau dalam bela diri. Dari pusaran angin, tercipta jurus berputar. Semesta adalah kitab terbuka, dan ilmu adalah kunci membacanya.
Maka, di penghujung ceramah, Prof. Darussalam mengunci pesan malam itu dengan ayat suci: Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.
Malam ke-13 pun ditutup dengan renung. Bahwa ibadah tanpa ilmu bagaikan langkah dalam gelap, sementara ilmu adalah lentera yang menuntun menuju ridha-Nya (sdn)